Wednesday, June 20, 2012

A Ko & A Me (2)


“Woy, gue ga bisa nemenin liburan ni. Gmn donk?”
“nemenin apa Me?”
“Nemenen lo buat bisnis itu lho...”
“Oh... gampanglah, liat nanti aja”

Sunday, June 17, 2012

AsPiRin


AsPiRin
Ini bukan obat, tapi singkatan AsPiRin (Asrama Putri Rinjani). Memang terletak di Jalan Rinjani, tepatnya Rinjani 24. Tak tampak seperti asrama, tapi lebih ke rumah kuno (fotonya nyusul). Di sanalah gue menghabiskan waktu 3 tahun untuk hidup. Banyak sekali kenangan yang tercipta.
Penghuninya ada sekitar 30 sampai 40an anak dengan 3-4 suster (ibu asrama). Terdapat kamar dengan 2 hingga 4 orang tiap kamarnya.di sana juga ada karakter yang unik, mulai dari Si Monster (alias Kutu), Big Mama, Macer (mami cerewet), Ketek 1, Ketek 2, Unyil, Makco, Tupet, “Babi” (maaf), Keceng, Mak Lampir, Nenek Sihir, Kriwul, Si Tompel and the other (I’m not remember clearly).
Tapi dibalik semua itu tidak semua memiliki kelebihan di akademik, malah mereka menjadi Top and The Best di bidang Art, desain, music, poem, dan lain-lain. Mereka unik.
Gue sendiri angkatan ke-3, memang masih baru waktu itu. Jumlah angkatan gue sendiri sekitar 11 orang, tapi gugur ada 4an (maaf jika ada yang salah). Sekarang dah pada mencar (jadi susah buat ketemu). Penghuni AsPiRin jadi tambah sedikit aja.
Ini waktu perpisahan dengan para tetua (angk 1)
Waktu awal-awal menu favorit gue di sana adalah bubur (buburnya putih, ga kayak di sini, buburnya cokelat-kayaknya dikasih kuah deh). Tapi Cuma di tahun pertama aja bisa menikmati itu menu, selanjutnya diisi dengan sarden, mie, telor (kayaknya 1 butir bagi 3 orang), bihun, tahu tempe, buncis, kacang panjang. Kangkung sudah jarang. Tapi ga papalah toh itu juga makanan, dan perlu diingat kami makan 3 kali sehari, ga kayak sekarang Cuma makan sehari 2 kali bahkan sekali doang. Sebenarnya bukan masalah itunya,  ada sebuah rasa yang ga bakal diperoleh hingga sekarang yaitu “kebersamaan”nya, “kekeluargaannya”. Inget banget dulu, kalau pihak AsPiRin diundang dalam acara, pasti ada anak-anak yang ikut serta dan mereka kalau pulang pasti bawa bekal. Walaupun sedikit, kami tetap berbagi.
Dulu kami juga religius, tiap hari (ga tau berapa kali) kami selalu berdoa, sebelum dan sesudah makan dan belajar, mau tidur, bangun tidur. Gereja tiap minggu (ada yang subuh, termasuk gue). Aduh ga kebayang, sekarang gue malah gini, boro-boro mau doa, bangun aja kesiangan. Gereja? Sebulan sekali dah bersyukur banget gue. Soalnya dulu itu ke gereja adalah kewajiban, kalau ga ke gereja ga boleh jalan-jalan. Walaupun sedikit terpaksa, tapi paling ga gue kecipratanlah dari mereka :P.
Selain itu kami (khususnya gue dan lain-lain yang seneng telat), sering banget olahraga pagi sebelum ke sekolah. Alias telat. Ada dua checkpoint, gerbang asrapa dan gerbang sekolah. Kalau gerbang asrama ga terlampau dengan tepat waktu, ya tentunya gerbang sekolah juga kecil kemungkinan untuk terlampau.
Bingung mau cerita apa lagi, tunggu kelanjutannya.... J

Tepai~


What’s Tepai? It sounds strange. Yup, little strange. Tepai is a name, and its my lucky name.
Tercipta saat SMA, begini ceritanya:
Awal agustus, kelas 1 SMA, sudah seharusnya masuk asrama dari bulan Juni (telat 2 bulan)

A:     “Oh, ini toh namanya Sharon?”
G (gue) : “ehm iya”
A:     “Beda banget dari bayanganku. Dulu aku pikir Sharon itu tinggi, cantik, cewek asli lah”
G:     (Heks?!) gue Cuma bisa nyengir
A:     “trus T nya apa?”
G:     (gue sering nyingkat nama Sharon T), ehm... “Tepai, mungkin?” haha
A:     “Hah? Tepai? Ancen Tepai kon iki” hahaha
(sebenarnya tepai sendiri gue ga ngerti artinya apa, ga ada arti kayaknya, spontan aja)

SMA adalah masa kejayaan gue. Di SMA sempat gue menjabat sebagai ketua, walau bukan ketua OSIS. Tapi cukup pentinglah buat komunitas gue (Dormitory, We said it’s The Prison). Cukup lama gue memegang jabatan ini, tapi gue rasa kayaknya itu bukan jabatan yang diminati, melainkan mereka saling melempar. Yah, anggap positif aja, mereka belom berani untuk mengambil tanggung jawab ini. Dan memang gue dapet hikmahnya, gue lebih deket dengan ibu asrama dan gue sering dapet “Hak Veto”.
Back to the topic. Nama Tepai sejak itu gue nobatkan sebagai nama hoki (keberuntungan), karna telah membawa gue ke puncak kejayaan. Hahaha. Sekarang coba aja tanya dengan mereka yang pernah tinggal di Dorm, kenal ga dengan si Sharon? Tentu masih mikir-mikir dulu, tapi kalau di tanya “kenal ga dengan si Tepai?” pasti jawabnya “Oh.. Tepai itu y? Hahah, kenapa emang?” nama bagus selalu jarang diingat, tapi nama “Unik” selalu cepat diingat. Jangan sampailah huruf “T” di KTP gue jadi Tepai -___-“